Nasa bidik gunung tambora dari luar angkasa

Largefoto yang diambil nasa

Setelah sempat
‘batuk-batuk’ pada 10 April
1815, Gunung Tambora di
Sumbawa meletus dahsyat.
Terbesar dalam sejarah.
Getarannya mengguncangkan
bumi hingga jarak ratusan mil.
Jutaan ton abu dan debu
muncrat ke angkasa. Akibatnya
sungguh dahsyat, tak hanya
kehancuran dan kematian
massal yang terjadi wilayah
Hindia Belanda, efeknya bahkan
mengubah iklim dunia. Petaka
dirasakan di Eropa dan Amerika
Utara. Tahun 1816 dijuluki ‘The
Year without Summer’, tak ada
musim panas di tahun itu.
Letusan Tambora juga
mengakibatkan gagal panen di
China, Eropa, dan Irlandia. Hujan
tanpa henti delama delapan
minggu memicu epidemi tifus
yang menewaskan 65.000
orang di Inggris dan Eropa.
Kelaparan melumpuhkan di
Inggris.
Kegelapan menyelimuti Bumi,
menginspirasi novel-novel
misteri legendaris misalnya,
‘Darkness’ atau ‘Kegelapan’
karya Lord Byron, ‘The Vampir’
atau ‘Vampir’ karya Dr John
Palidori dan novel
‘Frankenstein’ karya Mary
Shelley.
Tambora juga jadi salah satu
pemicu kerusuhan di Perancis
yang warganya kekurangan
makanan. Juga mengubah
sejarah saat Napoleon kalah
akibat musim dingin
berkepanjangan dan kelaparan
pada 1815 di Waterloo
Meski sudah tak lama aktif,
Tambora masih menarik
perhatian. Astronot Badan
Antariksa Amerika Serikat
(NASA), pada tahun 2009, NASA
mengabadikan kaldera Tambora
dari luar angkasa.
Kaldera Tambora berdiameter 6
kilometer dan sedalam 1.100
meter. Kawah ini terbentuk
saat Tambora yang saat itu
tingginya sekitar 4.000 meter
kehilangan puncaknya dan
ruang magma dikosongkan
dalam letusan dahsyat tahun
1815.
Dalam foto NASA, tampak
kawah Tambora menjadi danau
air tawar, yang juga diisi aliran
lava minor dan kubah dari abad
ke-19 dan ke-20.
Deposit tephra — material
campuran letusan gunung
berapi — bisa dilihat dari
sepanjang pinggiran kawah
barat laut. Fumarol aktif atau
ventilasi uap, masih eksis di
kaldera Tambora.
Pada tahun 2004, para ilmuwan
menemukan sisa-sisa
peradaban kuno dan kerangka
dua orang dewasa yang
terkubur abu Tambora di
kedalaman 3 meter. Diduga, itu
adalah sisa-sisa Kerajaan
Tambora yang tragisnya
‘diawetkan’ oleh dampak
letusan dahsyat itu.
Penemuan situs itu membuat
Tambora punya kesamaan
dengan letusan Gunung
Vesuvius di abad ke-79 Masehi.
Peradaban di Tambora lantas
sebagai “Pompeii di Timur.”
Pompeii adalah nama kota
Romawi di dekat Naples, Italia
yang disapu oleh letusan
dahsyat Gunung Vesuvius. Kota
tersebut terkubur di bawah
timbunan abu raksasa dan
lenyap selama 1.600 tahun
sebelum ditemukan kembali
secara tidak disengaja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s